ide tulisan diambil dari blog salah seorang guruku, sederhana dan lugas, menarik serta sarat makna.
Menurut Al-Qur’an, prosentase
senang dan sedih mestinya lebih banyak sedihnya. Kalau kita
bersenang-senang 5 kali sehari semalam, maka bersedihnya mesti lebih
atau minimal 5 kali juga. Sesuai rumus di atas:
Senang ≤ Sedih.
Di dalam kitab suci Al-Qur’an Allah SWT telah berfirman:
Artinya: “Maka hendaklah mereka
tertawa sedikit dan menangis banyak, sebagai pembalasan dari apa yang
selalu mereka kerjakan”. QS. At-Taubah : 82
Mulai saat ini
mari kita perbanyak bersedih dan kurangi bersenang, perbanyak bekerja
kurangi ketawa, perbanyak belajar kurangi bermain…agar kita sukses di
segala lini yang ingin kita raih. Jangan peduli atas rayuan iklan…dan
segala macam ajakan yang menyeret kita ke arah ketawa tiap saat,
bersenang-senang tanpa pandang lingkungan dst…dsj…
yup, ternyata justru kita dianjurkan untuk lebih sering menangis ketimbang tertawa, kalau toh ketawa kita misalkan 15 dalam satu hari dan itu termasuk kategori sedikit menurut kita, maka menangislah lebih dari bilangan tersebut, at least biar balance, sesuatu yang seimbang lebih disukai oleh siapa saja ketimbang berat sebelah...
orang yang kebanyakan ketawa jarang dihormati dan dihargai melebihi orang yang lebih banyak diam. diam inilah menunjukkan kualitas diri seseorang, karena dengan diamnya, orang lain akan penasaran dan bertanya-tanya serta menunggu saat-saat ketika orang itu berbicara, karena dia lebih sering diam daripada bicara. jadinya bicaranya dia menjadi hal yang luar biasa dan spesial.
sebaliknya, orang yang lebih sering tertawa, maka ketika dia bicara, sedikit mendapat perhatian, karena orang lain sudah sering melihat dia bicara dan ketawa. orang yang sering tertawa, lebih dekat dengan sering bicara. jadinya biacaranya dia menjadi hal yang biasa.
orang yang terlalu sering tertawa juga, menunjukkan dia jarang berfikir, atau mungkin memang dia lebih suka tertawa ketimbang berfikir, karena tenaga dia sudah habis dipakai untuk hanya sekedar tertawa dan berbicara banyak hal.
saya jadi teringat salah seorang teman ketika sekolah dulu, dia sungguh sangat jarang bicara, bicarapun seperlunya, yang ada hanya senyum manis yang terpancar dari wajahnya. hasilnya, dia tidak memiliki musuh atau tidak ada orang yang membencinya, yang ada adalah semua orang menyukainya.